Kenapa Semakin Dimarahi Anak Semakin Nakal? – Adaptive Parenting

GRATIS Kids Blueprint Anak Anda

Mau Tahu Apa Penyebab Masalah Anak Anda? Apa Bakat Terpendamnya? Dan Bagaimana Parenting-nya Yang Sesuai?

Kenapa Semakin Dimarahi Anak Semakin Nakal?

Hati-hati, salah memberikan perhatian malah bisa bikin anak makin nakal.

Anda mungkin pernah atau bahkan sering mengalaminya dengan anak Anda. Semakin sering Anda mengingatkan anak Anda, tingkah lakunya bukannya membaik, tapi malah makin menjadi-jadi.

Ya, Anda gak sendirian, karena ini terjadi pada hampir setiap anak. Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Sampai saya dan istri saya juga stress.

Ya, itu dulu. Sekarang sudah berkurang karena kami sudah tahu penyebabnya dan juga solusinya. Dan sewaktu saya share ke para ortu klien saya, mereka juga lega.

Anda juga mau?

Good!

Nah ini penyebabnya: karena berlaku hukum perilaku.

Menurut Dr. Glenn Latham (1990), pencetus The Power of Positive Parenting, perilaku biasanya dikuatkan oleh perhatian orang tua, baik positif maupun negatif. Maka dengan memberikan perhatian ke perilaku yang tidak pantas atau tidak penting, kita kemungkinan besar malah akan meningkatkan frekuensi dan intensitas perilaku tersebut, dari pada mencegahnya.

Tingkah laku yang tidak mendapatkan perhatian akan segera melemah dan akhirnya hilang. (Latham, 1990, p. 6)

Jadi bagaimana solusinya?

Simple banget, tapi perlu usaha untuk melakukannya 🙂 Dan ada beberapa langkahnya.

Yang PERTAMA, sesuai ADAPT (tonton video di bawah ini), adalah abaikan perilaku tidak pantas yang mau dihilangkan.

 

Yang KEDUA, didik anak sesuai blueprint-nya.

Yang KETIGA, ajar anak untuk berperilaku pantas dan bisa beradaptasi.

Lalu bagaimana prakteknya, Aldian?

Ok, saya kasih contoh.

Anak sulung saya dulu tidak pernah bereskan pakaian kotornya. Jadi setiap kali sesudah mandi, pakaian kotornya tidak dimasukkan ke keranjang laundry, tapi dibiarkan mengonggok di lantai kamar mandi.

Nah, dulu saya dan istri saya belum ngerti. Jadi tiap kali kami selalu “ngingetin” dia.

“Ayo pakaian kotornya diberesin.”

“Itu belum dimasukin ke keranjang laundry.”

Hasilnya?

Tentu saja makin banyak pakaian kotor yang ngonggok di lantai kamar mandi. Ternyata gak berhasil. Hahaha.

Di sini kita mesti berhati-hati. Kalau ortu emosi, dan anak dimarahi atau dihukum, itu bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah bisa menambah masalah. Karena bisa menganggu bahkan merusak relasi anak dengan orang tua.

Lalu saya dan istri cuekin aja pakaian kotor di kamar mandi. Abaikan. Biarin aja numpuk, dan lama-lama pakaian bersihnya habis. Karena sesuai blueprint-nya, anak sulung saya memang suka ngebantah dan perlu belajar dari pengalaman.

Sampai suatu ketika seragam sekolahnya yang bersih habis. Dan dia terpaksa pakai yang belum dicuci. Nah barulah dia belajar dan mulai menaruh pakaian kotornya di keranjang laundry.

Dan setiap kali dia menaruh pakaian kotornya di keranjang laundry, saya dan istri saya memujinya, “rajin ya langsung diberesin pakaiannya.”

Pujian ini sendiri adalah aplikasi dari prinsip perilaku, yaitu menguatkan perilaku positif dengan memberikan perhatian positif.

Sekarang anak sulung saya langsung taruh pakaian kotornya di keranjang laundry setiap kali selesai mandi.

Bagaimana dengan anak Anda? Bagaimana Anda bisa mengatasi masalahnya sesuai blueprint-nya? Anda bisa mengundang saya untuk memberikan solusinya lewat sesi parenting advising.

Click Here to Leave a Comment Below