• Home >>

FAQ – Jawaban Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan

Siapa Aldian Prakoso?

Halo, perkenalkan saya Aldian Prakoso, seorang ayah dengan 3 anak dan juga seorang suami. Saya mengalami tumbuh dan kembang menjadi orang lain karena terpengaruh oleh lingkungan saya, tanpa saya sadari. Saya menjalani universitas kehidupan dan menyadari bahwa saya sangat terpengaruh dan terkondisikan untuk bertindak yang tidak sesuai dengan diri sejati saya.

Sewaktu kanak-kanak saya juga merasa tidak disayangi dan diterima apa adanya. Sewaktu konseling dengan konselor saya, saya menyadari bahwa ketika tumbuh dan berkembang bukan hanya sekolah, fasilitas dan materi saja yang dibutuhkan seorang anak, tapi juga penerimaan, kasih sayang dan kehadiran orang tua.

Seminar demi seminar, retret demi retret, training demi training pun saya ikuti untuk menemukan diri sejati saya. Sampai akhirnya saya mendapatkan konseling dari seorang konselor yang mengerti blueprint saya dan mengajari saya untuk bisa menjadi diri sejati saya.

Ternyata salah satu blueprint saya adalah belajar dan mengajar. Maka tak heran jika saya aktif membagikan ilmu saya dengan menulis lima buku laris seri MantraUANG tentang digital marketing yang diterbitkan Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia), dan membuat saya dikenal sebagai Blog Monetization Strategist dan diundang menjadi nara sumber di berbagai media seperti Excellent TV, Universitas Esa Unggul, dan Harian Bernas. Tak ketinggalan bersama 100 tokoh kondang tanah air, antara lain Mery Riana, Andrie Wongso, James Gwee, dan Tung Desem Waringin, saya juga diundang berkolaborasi menulis buku 100 Billionaire Mindset.

Namun saya merasa ada kekosongan dalam diri saya. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa passion saya adalah parenting karena saya tidak ingin ada lagi anak-anak yang mengalami pengalaman yang saya alami karena ketidaktahuan para orang tua mereka. Seiring perjalanan waktu, saya juga menyadari bahwa banyak orang dewasa dan orang tua yang juga mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan sehingga membawa ‘luka’ yang tidak mereka sadari hingga sekarang, yang sangat mempengaruhi hidup mereka sekarang, termasuk cara mereka memperlakukan anak-anak dan pasangan mereka.

Maka saya mendalami Jungian Psychotherapy based approach, Transpersonal Counseling dan Body Psychoterapy, dan telah praktek privat selama 3 tahun. Saya juga memiliki Licensed Practitioner of NLP by The Society of Neuro-Linguistic Programming® dan Certified Hypnotherapist by The Indonesian Board of Hypnotherapy, Diploma in Continuing Professional Development Psyche & Soma Practitioner, serta modalitas lain yang mendukung yaitu Human Design Counseling dan Astrological Psychology.

Misi saya sebagai seorang Psyche & Soma Practitioner dan lewat buku Adaptive Parenting yang saya tulis dan diterbitkan oleh Elex Media adalah memberikan clarity (kejelasan) kepada para orang tua untuk menyelaraskan nurture (parenting) dengan nature (blueprint) anak mereka, serta mendidik dan menumbuhkan anak-anak mereka sesuai blueprint mereka masing-masing, dan tidak berdasarkan keinginan orang tua. Sedangkan misi saya melalui Psyche & Soma Therapy, Counseling & Coaching, adalah menjadi seorang guide dan fasilitator yang bisa dipercaya, yang mendengarkan secara obyektif dan tidak judging, sehingga klien merasa nyaman, aman, punya harapan, serta bisa mengungkapkan perasaan dan emosi mereka dengan bebas.

Apa Adaptive Parenting?

Adaptive Parenting adalah sintesis dari Positive Parenting dan Human Design, di mana saya menggunakan Positive Parenting untuk panduan dan cara berpikir orang tua yang bijak dalam menghadapi perilaku anak, dan menggunakan Human Design untuk melakukan pendekatan interaksi yang detil ke anak.

Untuk penjelasan yang lengkap dan detil tentang Adaptive Parenting, silahkan Anda baca buku Adaptive Parenting yang diterbitkan Elex Media, yang bisa Anda pesan di sini.

Apa Positive Parenting?

The Power of Positive Parenting adalah prinsip, strategi dan ketrampilan yang dites, dan dikembangkan dari research dan eksperimen yang dilakukan lebih dari 35 tahun oleh Prof. Dr. Glenn I. Latham, Ed.D, yang juga kepala departemen edukasi di Utah State University, Amerika Serikat.

Apa Human Design?

Human Design adalah sintesis dari empat ancient wisdoms (ilmu kebijaksanaan kuno), yang menjadi suatu sistem tersendiri:

  • Astrology
  • I Ching
  • Chakra dari tradisi Hindu Brahmin
  • Tree of Life dari tradisi Zohar / Kabbalah

Secara sederhana Human Design adalah peta energi diri kita, yang membantu kita mengenali diri kita, genetika, pikiran bawah sadar dan pikiran sadar, sifat, bakat, karakter, cara kita bertindak dan mengambil keputusan, sehingga kita bisa menjalankan hidup kita dengan lancar dan lebih sedikit hambatan.

Perlu diingat bahwa Human Design bukanlah alat ramalan atau yang berkaitan dengan hal-hal religi lainnya. Human Design adalah alat scan psikologis yang mana digunakan untuk mendeteksi pola sadar serta bawah sadar manusia, sehingga manusia itu bisa kembali kepada harkat martabat fitrahnya yang asli dan otentik.

Tidak ada keniscayaan, kesembuhan seketika, atau garansi hasil dengan penggunaan Human Design. Chart reading, analisa dan advising bukanlah penyembuhan atau pemulihan jiwa, dan hasil setiap orang berbeda.

Apa Saja Aplikasi Manfaat Human Design?

Banyak sekali aplikasi dan manfaat Human Design, antara lain:

  • Parenting
  • Self improvement (pengembangan diri dengan mengetahui bakat, sifat dan karakter)
  • Learning style (mengetahui cara belajar dan jurusan yang cocok)
  • Career guidance (mengetahui karier, profesi atau usaha yang sesuai)
  • Job recruitment and placement
  • Team building
  • Intimate relationship
  • Counseling
  • Relasi yang lebih baik antara ortu dan anak

Apa Hubungan Parenting dengan Human Design?

Ini adalah pertanyaan yang bagus sekali and I really appreciate it.

Perlu kita sadari bahwa setiap anak unik, berbeda dengan bakat, sifat dan karakternya masing-masing. Setiap anak mempunyai blueprint-nya masing-masing. Jadi tiap anak membutuhkan parenting yang sesuai dengan blueprint-nya masing-masing agar bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan keunikannya.

Tetapi apa kenyataannya yang terjadi?

Kita dibesarkan menurut gaya parenting ortu kita masing-masing. Ortu kita pun juga dibesarkan menurut gaya parenting ortu mereka. Dan kita cenderung meniru gaya parenting ortu kita saat membesarkan anak kita, atau mungkin kita justru melakukan kebalikan dari gaya parenting ortu kita.

Sedangkan gaya parenting tersebut belum tentu cocok untuk anak kita yang unik. Dan ini memang bukan salah kita, atau pun salah ortu kita, karena selama ini kita tidak tahu dan belum mengerti.

Lalu bagaimana kita tahu keunikan anak kita sehingga kita bisa menggunakan gaya parenting yang sesuai untuk anak kita? Nah di sinilah Human Design bisa membantu kita untuk mengenali keunikan anak-anak kita sehingga kita bisa mem-parenting sesuai keunikan mereka, sesuai dengan kebutuhan mereka, dan kita bisa mengarahkan mereka untuk masa depan yang lebih cerah.

Bagaimana Contoh Penerapan Human Design untuk Parenting?

Ada banyak contoh-contohnya. Di sini saya kutip beberapa sharing para moms yang sudah mempraktekkan dan merasakan manfaatnya setelah mengikuti sesi privat maupun melalui analysis report:

  • Saya mengetahui kalau anak saya so feeling person dan type Projector. Saya dianjurkan untuk tidak menyuruh-nyuruh tapi lebih touch her feeling dengan men-suggest dari pada memerintah. ​Kemudian saya mencoba untuk kegiatan simple seperti mandi atau tidur, saya tidak lagi menyuruh dengan berkata “ayo cepet ini” atau “ayo cepat itu”. Namun lebih mengarahkan seperti “coba cium deh badannya bau gak? Kalau begitu berarti saatnya untuk..?” dengan santai dan tanpa harus berulang-ulang diperintah, anak saya langsung jawab “mandi” dan ajak mbak nya untuk segera memandikannya.
  • Saya jadi lebih jelas, jeli dan juga bisa memaklumi anak saya. “Memang dari sananya sudah begitu!” Misalnya kebiasaannya yang suka menunda-nunda untuk berpakaian sehabis mandi. Dari pada saya marah-marah, saya ganti dengan kalimat undangan “coba Mama lihat, anak mama sudah bisa pakai baju sendiri ya?” karena naturnya anak saya yang memang menunggu undangan dan suka diakui kemampuannya.
  • Sangat membantu saya utk “menerima” sifat2 bawaan anak saya dan cara mengatasinya. Hanya setelah 1 sesi advising, saya sudah bisa mengetahui apa saja yang menimbulkan ‘emosi negatif’ pada anak saya dan cara2 mengatasinya. Kini hubungan kami dengan anak2 jauh lebih baik dan anak saya yang tadinya mudah marah sekarang sudah dapat melampiaskan emosinya dengan cara yg lebih positif.

Silahkan juga Anda lihat contoh lebih detilnya di Comprehensive Analysis Report. Silahkan Anda download contoh report-nya di sini.

Bagaimana Contoh Penerapan Human Design untuk Gaya Belajar Anak?

Berikut ini adalah contoh-contoh nyata dari sharing para moms yang sudah mempraktekkannya setelah ikut sesi privat mau pun melalui analysis report:

  • Kami mengajak anak kami sesering mungkin bermain dengan cara ‘eksperimen’. Mengajak rutin mandi di sungai, bukan di kolam renang. Mengajak bermain lilin dan kembang api. Membiarkannya memanjat pagar sesukanya. Dan mainan2-nya cukup kami tata di meja lebar. Tidak kami bereskan. Supaya anak kami setiap saat bisa bermain sepuasnya.Perkembangan sementara: anak kami jadi lebih responsif. Lebih peduli dengan lingkungan. Dia sudah bisa ngasih makan kucing dan kelinci. Mau mengajak bermain anak lain. Kami bisa memahaminya, setelah Pak Aldian mengungkapkan bahwa mainan berantakan adalah hal normal.Saat ini, frekuensi dia bicara, jadi lebih sering. Dulu belum bisa menari, sekarang sudah bisa menirukan tarian di TV. Sementara demikian info kami. Sambil mengajak dia eksperimen lebih variatif lagi.
  • Nah, kebetulan saya juga sedang mencari sekolah untuk anak saya. Bingung pilih sistem pendidikan apa yang paling cocok, apakah nasional, nasional plus, Cambridge atau international. Dari hasil analisa Aldian, ternyata anak saya suka yang belajar sampai mendalam dan tipe trial and error gitu. Jadi saya dan suami mantap akan pilih sekolah yang lebih banyak projeknya daripada teori.Saya dan suami bisa menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak kami dan hopefully we could bring out the best in her

Contoh-contoh yang lebih lengkap bisa Anda lihat di contoh Learning Style Report. Silahkan Anda download di sini contoh report-nya.

Bagaimana Contoh Human Design Bisa Membantu Mengurangi Konflik Antara Ortu dan Anak?

Ada seorang mom yang ikut sesi privat parenting advising. Mom ini tinggal bersama suaminya beserta kedua anaknya. Dan mama mertuanya juga tinggal di rumah mereka.

Anak sulung mom ini gak nafsu makan pada pagi hingga sore hari. Makannya dikit banget. Tapi begitu jam 10 malam, minta makan. Dan yang biasanya buatin makannya adalah omanya.

Oma ini suka ngomel karena cucunya makannya malam-malam. Merasa seperti direpotin.

Si mom juga kadangan kesal mesti siapin anaknya makan malam-malam karena sudah capek seharian kerja. Yes, she’s also a working mom. Kerja dari pagi sampai sore, sampai rumah sudah capek dan kepingin istirahat, tapi sekitar jam 10 malam masih mesti siapin makan anak sulungnya.

Worse, si oma kadangan juga ngomel ke mom ini karena jam makan cucunya “gak wajar”. Ya, khan biasanya orang makan jam sekitar jam 6 – 7 malam.

Jadi bisa dibayangkan ketegangan di keluarga tersebut… hampir tiap malam.

Setelah saya analisa chart Human Design-nya, anak ini ternyata nokturnal. Nokturnal adalah istilah di Human Design di mana seseorang lebih aktif pada malam hari, dan justru sehat baginya untuk makan pada malam hari (setelah matahari terbenam hingga sebelum matahari terbit). Jadi normal bagi anak ini untuk minta makan jam 10 malam. Karena memang begitulah design-nya.

Saya jelaskan hal ini ke mom ini. Saya juga minta mom ini untuk menjelaskannya ke sang oma, agar bisa memfasilitasi kebutuhan cucunya yang memang unik.

Dan saya berikan juga saran agar mengajari si anak untuk bisa menyiapkan sendiri makannya, sehingga tidak perlu selalu oma atau mom yang menyiapkan makan malam anak ini.

Jadi dengan mengetahui keunikan anak melalui Human Design, ortu bisa lebih memahami dan memfasilitasi kebutuhan anak.

Apakah Human Design Mempengaruhi Proses Belajar Anak?

Jawaban singkatnya adalah YA. Human Design mempengaruhi proses belajar anak.

Mungkin Anda akan bertanya lebih lanjut: bagaimana mempengaruhinya?

Dan saya jelaskan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses belajar adalah panca indra. Karena otak menerima informasi dari panca indra:

  • Penglihatan (mata)
  • Penciuman (hidung)
  • Pendengaran (telinga)
  • Pencecap (lidah)
  • Sentuhan (kulit)

Kadar informasi yang diterima otak dari panca indra ini berbeda. Karena setiap orang mempunyai panca indra yang lebih dominan dari panca indra lainnya. Misalnya penglihatannya paling dominan. Atau mungkin ada orang yang pendengarannya paling dominan.

Bagaimana tahunya panca indra mana yang paling dominan?

Dengan menggunakan Human Design.

Dan apa efeknya jika panca indra yang paling dominan tersebut yang distimulasi?

Informasi yang diterima otak berpotensi bisa lebih banyak, sehingga proses belajar juga berpotensi lebih optimal dan efektif.

Jadi ya, Human Design mempengaruhi proses belajar anak.

Ada seorang anak yang dominan indra sentuhannya. Sewaktu saya jelaskan ke ortunya, papanya spontan berkomentar takjub “oh pantesan Eric sewaktu belajar baca huruf-hurufnya dipegang sambil nyebut hurufnya.”

Iya anak tersebut, Eric, belajar membacanya suka dengan mainan huruf-huruf. Dan dia suka memegang dan meraba huruf-huruf tersebut. “Ini A.” “Ini B”. Dan seterusnya.

Dan ini saya baru jelaskan secara singkat satu faktor yang berpengaruh dalam proses belajar. Masih ada faktor-faktor lainnya yang terlalu panjang untuk saya jelaskan di sini, sehingga perlu saya jelaskan secara khusus melalui webinar, workshop atau sesi parenting advising.

Apakah dengan Mengetahui Human Design untuk Parenting Bisa Membuat Anak Saya Lebih Senang Sekolah di Masa Pandemi Seperti Sekarang?

This is a very great question and I’d love to answer it.

Kita perlu sadari bahwa manusia adalah makhluk sosial. Terlebih anak kita yang masih dalam masa pertumbuhan dan belajar tentang pertemanan. Mereka perlu bermain dan berkumpul dengan teman-teman mereka, antara lain sewaktu di sekolah.

Tentu kita masih ingat bagaimana dulu aktivitas kita di sekolah sewaktu kita masih anak-anak: waktu istirahat jajan dan makan bareng teman, atau ramai-ramai main bola yang dibikin dari gumpalan kertas, atau main tali karet. Duduk berdekatan dengan teman-teman kita, bahkan berdesak-desakan.

Ini berbeda bumi dan langit dengan yang dialami oleh anak-anak kita sekarang ini. Mereka sekolah online via Zoom atau Google Meet. Tidak ketemu teman. Tidak main bareng teman.

Sekolah tatap muka memang sudah dimulai. Namun banyak kegiatan yang dibatasi dan jumlah murid yang dibatasi. Ya, karena memang sekarang kondisinya begini.

Jadi ada salah satu basic needs (kebutuhan dasar) anak kita yang tidak tersalurkan, yaitu untuk bersosialisasi fisik dan bermain langsung dengan teman-temannya.To be honest, I also feel sad about it. Dan Human Design juga tidak bisa memenuhi kebutuhan ini.

Namun di luar kebutuhan tersebut, Human Design bisa membantu, antara lain dengan mengetahui lingkungan yang cocok untuk anak dan memfasilitasinya. Karena dengan berada di lingkungan yang cocok anak akan merasa lebih aman dan nyaman.

Ada seorang mom ikut sesi parenting dengan saya. Saya waktu bertanya ke mom ini “anak ibu suka nyempil-nyempil di tempat yang sesak?”

Kaget dia. “Kok tahu? Iya anak saya suka dempetin meja, kursi, rak dan barang-barang lainnya. Mejanya juga sesak penuh buku. Saya sampai begah lihatnya.”

“Anak ibu memang dominan dengan sentuhan. Dia suka dan merasa aman kalau bisa nyenggol atau nyentuh sesuatu. Jadi biarkan saja bu. Cuma pastikan tempatnya, jangan sampai dia ketimpa rak yang jatuh atau barang lainnya yang ditumpuk tinggi.”

Jadi in a sense mempraktekkan Human Design untuk parenting bisa membuat anak lebih senang di jaman pandemik ini.